ASLAB (Asisten Laboratorium), Why not? (bagian 2-end)

Posted: 19 Februari 2015 in Tak Berkategori

lanjutan . . .

 

b. Botani 1 (kriptogam)

Di matkul ini terbatas membicarakan tumbuhan tingkat rendah kayak alga, jamur (masih dimasukin), liken, lumut, dan paku2an. Kalo diinget, gue daftar jadi aslab botani 1 karena iseng (ini seriusan). Di hari calon aslab diminta kumpul dengan dosen pengampu, gue ikut nimbrung, dan jadilah 8 aslab botani 1 (termasuk gue juga). Kebetulan saat itu gue ngaslab bareng Rurin (partner aslab) buat ngisi praktikum di kelas PBB (Pendidikan Biologi Bilingual) 2013, yang semester sebelumnya udah gue asalab-in praktikum Biologi Umum.

Sejujuranya diantara materi-materi yang ada, gue lebih paham untuk pengenalan morfologi. Pasalnya di botani 1 lebih nekanin ke arah klasifikasi, jadi dibutuhin kemampuan buat identifikasi, salah satunya dari karakter morfologi. Jadi di praktikum ini gue lebih berperan pengenalan morfologi khusus dan penyedian bahan praktikum, dan untuk materi klasifikasi dll di pegang Rurin. Urutan praktikum dimulai dari alga, jamur, liken, lumut, dan paku2an. Oya di praktikukm botani 1 ada yang namanya Field Trip atau bisa disebut kuliah lapangan. Jadi Praktikumnya gak cuma ngenal objek dari spesimen, tapi juga belajar langsung di alam.

Sekedar info aja, Biologi UNJ termasuk yang paling sering ngadain kuliah lapangan. Setidaknya mulai dari smester 2 hingga semester 6. Itu pun kadang ada smester yang engga ada kegiatan lapangan, tapi kadang mahasiswanya kelapangankarena memang ikut kelompok studi, juga ada yang jadi asisten (seperti yang gue lakukan), dan mata kuliah pilihan yang ngaadain kuliah lapangan.

Kembali ke FT, di kegiatan ini ada mentor2 yang bakalan nemenin kelopok2 kecil yang bakalan gambil data di lapangan. Termasuk aslab2 praktikum botani kriptogam jadi mentor, dibantu kakak2 dan teman2 yang lain yang sekiranya bisa jadi mentor.

DSC00260

Arahan dari bapak agung (dosen pengapu) pada mentor2 FT botani kriptogram.

Saat di lapangan, gue pun masih merasa bayak yang kurang dan harus dipelajari kembali. Pasalnya gue hanya bisa ngasih konsep2 dasar, kalaupun ditanya identifikasi gak banyak yang bisa dijawab. Tapi setidaknya kita gak berdiri sendiri, ada beberapa mentor yang juga menglami kesulitan, pada akhirnya beberapa kelompok bergabung agar penyapaian informasi2 sekitar objek pengamatan tersapaikan dengan lebih baik.

DSC00234

Belajar lumut bareng ka Indah dan kak Ayin (kalo gak salah)

Kalo dibilang mentor engga ada apa2nya yah itu yang gue rasain saat itu. Tapi sekali lagi gue merasa gak terlalu masalah, soalnya gue pun masih belajar, dan akhirnya kita jadi diskusi dan sama2 belajar. Bingung bareng, takjub bareng, tahu bareng, jadi gue pun merasa gak ada batasan yang berarti antara bocah2 (adik tingkat yang dibimbing ) dengan mentor. Cuma pengalaman, minat dan pengetahuan yang bikin beda, karena mentor2 lebih awal ngejalanin daripada bocah2nya.

DSC00367

Bocah2 (ayu, rh, aya, usman) yang gue bohongin selama FT :p

Balik dari FT pun masih ada special project (sp) dari dosen buat mahasiswa botani kriptogam, untuk memetakan tumbuhan paku se-jakarta. Selama sp gue lebih berasa sibuknya jadi aslab, selain koordinasi sama kelompok2 yang lagi ngambil data. Aslab juga standby buat ngebantu bocah2 ngurusin spesimen. Saat ngurus spesimen pun kita (aslab) masih kurang pengalaman. Contohnya pas ada kelompok yang bawa paku yang panjang frond-nya 1 meter lebih kita bingung itu paku mau di-oven gimana. Pada akhirnya kita pun berrtanya pada asalab yang lebih senior untuk minta saran.

Setelah kegiatan praktikum sudah mencapai bagian akhir, seperti biasa bocah2 bakal ngejalanin UAP. UAP kali ini ketiga kelas ngejalaninnya bersamaan di hari yang sama (hanya jamnya yang berbeda). Salah satu momen yang berat bagi aslab adalah saat memeriksa jawaban UAP bocah2. Karena nilai rata2 kelas mereka ada yang bagus dan ada yang kurang. Mungkin bocah2 bakal mikir kakak2 aslabnya ga begitu peduli dengan nilai2 mereka. Tapi bagi beberapa aslab itu jadi beban pikiran juga. Ketika nilai bocah jelek, bukan cuma bocahnya yang sedih, aslabnya juga. Aslab sedih bukan hanya masalah kuantitas dari nilai, tapi dari kualitasnya. Ketika nilai bocah2 kecil, kita selalu berpikir “apa gue nyampain materinya salah?”, “kok nilainya pada kecil?”, “gue bikin soal kesusahan ya?”, dsbg. Gak jarang juga kita merasa gagal dalam mengaslab, seolah yang selama 1 semester kita sampain masih banyak yang engga tersampaikan. Sederhananya, ketika bocah2nya berhasil kita senang, dan ketika bocah2 gagal kita juga merasa gagal.

 

c. Botani 2 (fenerogam)

Masuk ke semester selanjutnya gue kembali gabung ke tim aslab praktikum botani fenerogam (tumbuhan tingkat tinggi). Kalo dua semester sebelumnya gue ngaslab kelas pedidikan bilingual, sekarang gue di kelas pendidikan reguler. Awal pertama kali pindah pun gue merasa atmosfernya berbeda (karena gue udah hampir setahun bareng anak pendidikan bilingual). Untuk kali ini gue partner bareng Mei dan Yule dari kelas pendidikan.

Singkat cerita gak banyak yang berbeda sebenernya kayak botani 1, hanya aja objeknya sekarang tumbuhan tingkat tinggi. Lanjut ke FT. FT botani kriptogram diadain di pulau Untung Jawa dan pulau Rambut. Bagi beberapa orang pulau2 itu sebenarnya tidak begitu layak untuk tempat penelitian, karena masih sangat dekat dengan teluk Jakarta. Sehingga masih banyak sampah, dan warna air launya juga masih agak hijau gelap. Meskipun begitu, gak jadi masalah karena fokus FT kali ini memang tumbuhan di pulau Rambut dan pulau Untung Jawa.

Hari pertama pengamatan, bocah2 gue bawa ke dalem hutan (ke arah tengah pulau) buat ngambil data. Kebetulan gue dulunya sempet minat di ekosistem mangrove, jadi gue gak begitu kesulitan untuk ngejelasin jenis (paling engga genus) yang ditemuin di sekitar pulau. Karena memang kebetulan di pulau Rambut masih ada hutan mangrove. Waktu penelusuran, gue dan bocah2 sempet nyasar dan stuck di padang Fabaceae yang berduri dan akhirnya kita back track. Tapi yang perlu diingat disini, back track bisa sangat berbahaya karena bisa nyebabin disorientasi. Bahkan bisa berdampak nyasarnya lebih parah. Keutuhan dan kondisi anggota kelompok juga bagian dari tenggung jawab mentor (selain ngedampingin kelompoknya). Sehingga mau gak mau mentor pun juga harus ngambil keputusan di saat2 tertentu.

Hari kedua mungkin lebih berat tapi lebih singkat karena sudah banyak data yang diambil di pulau ini oleh kelompok2 di hari pertama. Jadi kita ngakalin untuk nyusurin pesisir timur laut ke arah barat daya.

Sepulang dari pengamatan gue diminta pak Agung untuk nyari Caulerpa (semacam alga hijau) di pantai timur pulau Untung Jawa. Kebetulan waktu itu gue nyari bareng Hery (aslab), meskipun awalnya nyasar ke rawa-rawa. Dengan bermodal karung dan ilmu yang minim kita coba nyari Caulerpa di pantai itu. Kebetulan memang di situ lagi banyak Caulerpa dan beberap aalga lainnya yang kebawa ombak. Sepulang dari pantai, ternyata kelompok yang di pulau Rambut juga diminta ngebawa Caulerpa dan lebih banyak jumlahnya. Alhasil di sore hari kita misah2 in dan ngebersihin Caulerpa.

ftbotan2DSC04559

Caulerpa hunter (Hery)

ftbotan2DSC04560

Hasil buruan

ftbotan2DSC04561

Caulerpa sp. yang dijadiin makanan penduduk sekitar

 

 

Sekedar  informasi, Salah satu menu makan malem ini pake Caulerpa (meski pun pada akhirnya cuma beberapa orang yang makan karena kesan awal dari Caulerpa berbau amis). Tadinya Caulerpa bakal direbus, tapi ada ide dari kak Lana buat digoreng. Dengan modal nekad jadilah bakwan Caulerpa dan hasilnya tidak buruk. Bahkan cenderung enak😀

ftbotan2DSC04573

Memasak bakwan Caulerpa bersama kak Lana

Bakwan Caulerpa

Bakwan Caulerpa

Selesai perkara FT kembali ke praktikum biasa. Kejadian2 seperti prkatiku2 sembelumnya pun masih terjadi kayak nilai2 yang kecil (kalo yang ini hanya beberapa orang tidak separah botani kriptogam), telat nilai laporan dsbg.

***

Dari beberapa cerita yang gue paparin mungkin ada beberapa hal lain yang gue pelajarin selama jadi aslab :

  1. Aslab bukan sekedar eksistensi. Hal ini mungkin perlu dicatat, termasuk buat gue juga. Karena setiap manusia ingin keberadaanya disadari oleh orang lain jadi menurut gue itu hal wajar. Tapi mungkin baiknya disertai dengan ilmu dan pengamalam juga. Seperti apa yang salah satu dosen gue bilang “sekarang anda akan memeiliki adik (adik tingkat maksudnya), apa yang akan anda berikan untuk adik2 anda? dan seperti apa anda dikenal mereka?”
  2. Lebih akrab dengan dosen, kakak tingkat dan adik2nya. Poin ini gue lebih banyak merefleksikan ke FT. Mungkin kita pernah ingat kata2 Rasulullah yang intinya adalah bila kita bermalam di suatu tempat dengan orang lain ataupun dengan kawan kita, kita akan mengetahui sifatnya yang sebenarnya.
  3. Kita belajar jadi ‘guru’. Gak menutup kemungkinan karena kita membagi ilmu yang kita miliki ke adik2 kita, tapi juga kita dituntut untuk belajar pula. Selain itu kita juga berbagi rasa dan perasaan dengan bocah2 dalam konteks pendampingan.
  4. Kami pun tidak sempurna. Selam ajadi aslab pun banyak konflik yang kadang harus dihadapi. Mulai dari rasa tidak suka bocah ke aslabnya, perbedaan pendapat dengan aslab, telat memeriksa laporan, dsb. Dan siapa pun dari kita harus siap dengan konsekuensi yang ada.
  5. Komunikasi. Bagi gue ini merupakan hal simpel dan klasik. Karena komunikasi bukan hanya bicara kita menyampaikan materi dan menjadi pusat perhatian kelas, tapi juga bagaimana kita mengenal setiap karakter bocah.
  6. Kepuasan batin. Banyak hal yang mungkin luput atau pun tidak tersampaikan selama jadi aslab. Entah itu kita sedih, marah, kecewa, dan bahagia ketika menjalankan tugas. Tapi di akhir beberapa dari kami akan menerima kepuasan batin yang berbeda, yang tidak dirasakan teman2 yang lain. Senyum dari bocah2 bisa saja kebahagiaan tersendiri bagi aslab.
  7. Yang terakhir (mungkin) memberi kesempatan yang lain. Segala yang dimulai pastinya akan ada akhir. Tapi konteks disini adalah kita memberi kesempatan bagi orang lain untuk berkembang. Karena memang disekitar kita pun banyak yang ingin jadi aslab, tapi mereka takut karena merasa ada yang lebih kompeten, tidak ada teman, dan alasan yang lainnya.

 

Kalau pembaca di sini ada yang masih galau untuk jadi aslab padahal paling tidak sudah punya dasar materinya. Mendaftarlah, buat apa anda diam? apakah anda belum mengenal diri anda sendiri?

ASLAB (Asisten Laboratorium), Why not? (bagian 1)

Posted: 12 Januari 2015 in Tak Berkategori

Bagi beberapa orang istilah aslab mungkin agak sedikit asing. Pada umumnya istilah aslab dipakai buat kakak tingkat (dalam dunia kampus) yang bertugas buat ngebantu dosen pembimbing praktikum mata kuliah. Bisa dibilang juga aslab setara dengan asdos (asisten dosen), hanya aslab lebih familiar dengan mereka yang membantu praktikum dan asdos lebih mengenai teori. Setiap aslab punya kelebihan masing-masing di bidang mereka (dalam kasus ini mata kuliah yang di-aslabnya). Contohnya aslab matkul Biologi Dasar, Fisika Dasar, Kimia Dasar dsbg.

Nah, di kesempatan ini gue mau sharing sedikit mengenai suka dan dukanya jadi seorang aslab yang mungkin menurut beberapa orang, aslab itu pintar, kompten, keren dsbg. Kebetulan saat tulisan ini dibuat gue udah di akhir semester 5, dan kebetulan sudah berkesempatan 3 kali jadi aslab di matkul yang berbeda (1,5 tahun).

 

Awal jadi aslab?

Sebelum beranjak ke ‘awal jadi aslab’, gue mungkin mau bilang pertama kali ngelihat aslab itu keren (waktu masih jadi mahasiswa baru). Kenapa keren? Gimana engga sebagai maba (mahasiswa baru) ngelihat seniornya mimpin dan ngarahin kelas buat praktikum, diskusi sama maba, bisa jawab pertanyaan yang agak sulit di diskusi praktikum, ataupun sekedar ngebantuin kesulitan adik-adiknya. Disaat itu mungkin gue baru tersadar kalo mengajarkan sesuatu itu gak harus terikat oleh status (misalnya mahasiswa dengan dosennya), karenanya teman diskusi (khususnya kakak tingkat) sangat penting.

Balik ke ‘awal jadi aslab’, waktu gue mau masuk smt 3 sempet diajakin jadi aslab praktikum Biologi Umum (bioum) buat maba 2013 (kebetulan gue angkatan 2012). Sebelumnya gue ngerasa enggak enak, soalnya cuma gue yang ditawarin. Tapi atas dasar belajar dan mencoba untuk mengenal angkatan baru akhirnya mencoba untuk jadi aslab di tahun itu. Kebetulan waktu itu gue jadi partner kak Hanny sekaligus orang yang bertanggung jawab mengajak gue untuk jadi aslab haha.

Awalnya gue masih agak canggung untuk mulai ngaslab di depan maba, selain karena merasa hanya terpaut satu tahun, gue khawatir salah ngasih ilmu ataupun konsep selama praktikum. Tapi rasa itu mulai berkurang seiring gue mulai mengenal dan komunikasi dengan mereka, dengan cara diskusi gue menyiasati kekurangan setiap praktikum. Ketika ada pertanyaan maba yang gak bisa gue jawab, gue sering mengulangi kata-kata “coba cek lagi di litelaturnya”, “kata itu ada di bahasan apa ya?”, “kalo menurut kalian gimana?”. Mungkin apa yang gue lakuin terlihat bodoh atau engga ada yang berpikir kalo yang gue lakuin salah. Meskipun kadang engga semua pertanyaan akhirnya terjawab, paling tidak hal itu bisa memancing maba untuk berpikir dalam diskusi. Entah kenapa setiap kali coba diskusi gue juga ikut larut di diskusi, dan memang secara engga langsung  kita belajar untuk lebih dari mereka (maba).

 

1.5 tahun jadi aslab? gak bosen? itu ngapain aja?

Selama 1.5 tahun (3 semester) gue udah ngejalanin tiga matkul yang berbeda. Semester 1 di Biologi Umum, semester 2 di Botani 1 (Kriptogam), dan semester 3 di Botani 2 (Fenerogam). Beda praktikum matkul jelas beda suasana dan tantangannya. Dan untuk yang mau coba ngaslab mungkin gue saranin mulai dari bioum (kebetulan karena gue mahasiswa jurusan biologi). Pasalanya di sini bakal ditemuin kelakuan kelakuan sifat-sifat perantara antara siswa dan mahasiswa. Jadi masih agak mudah diatur dan masih agak segan dengan kakak tingkatnya. Langsung aja cerita di setiap matkul aja kali ya . . .

a. Biologi Umum

Sewaktu jadi aslab bioum gue lebih berperan di bagian penyiapan alat, teknis praktikum, dan pengawasan. Peran ini udah gue bagi dengan kak Hanny yang lebih berperan di pengadaan pre-test, penjelasan konsep dan pengawasan. Setiap kali awal praktikum biasanya ada pre-test untuk melihat apakah mahasiswa sudah memahami konsep sebelum praktikum dilakukan, dan hal ini juga bisa jadi salah satu evaluasi praktikum. Kebetulan nilai pre-test juga masuk ke dalam nilai praktikum dengan proporsi yang beda.

Setiap pre-test yang ka Hanny pimpin berlangsung, gue lebih ke arah ngecek ulang kesediaan alat dan bahan-bahan praktikum. Kalau pre-test sudah selesai, biasanya gue langsung ngambil alih buat ngejelasi tahap-tahap di praktikum dan pembagian lainnya. Di lain sisi, kak Hanny meriksa jawaban dari pre-test. Kak Hanny baru ikut bantu pada praktikum kalau jawaban pre-test udah diperiksa.

Setelah selesai kegiatan praktikum, biasanya diadain diskusi 20-30 menit. Di sini maba diminta untuk menyampaikan hasil pengamatan yang didapatkan, dan diadain tanya jawab setelahnya. Di diskusi ini biasanya muncul pertanyaan pertanyaan yang belum tentu bisa dijawab aslab. Tapi gue dan kak Hanny jawab dengan apa yang kita tahu, dan dikembalikan ke maba untuk didiskusikan kembali. Emang terlihat sepele, tapi memang pada dasarnya tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh aslab. Di sisi lain, maba juga terbiasa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang lebih karena rasa penasarannya (kepo).

Karena ini adalah matkul yang punya bobot SKS praktikum, di penghujung perkuliahan juga diadakan ujian akhir praktikum (UAP) selain UAS pada bagian teori. Seperti halnya di UAS, UAP juga jadi poin penilaian bagi mahasiswa. Yang nantinya akan digabung jadi nilai praktikum (beserta nilai pre-test/post-test, laporan). Saat UAP, aslab ngebagi kelas menjadi dua sesi (sesi 1 dan sesi 2) tujuannya agar ruang  ujian tidak begitu padat dan ada ruang untuk bergerak. Di sini, kami terbiasa untuk melakukan ujian ‘prasmanan’ di mana setiap soal ujian akan disertai dengan alat, bahan ataupun gambar mengenai praktikum yang sudah dilaksanakan. Di metode prasmanan ini juga disertai sistem ‘ketok’. Sistem ‘ketok’ mengisyaratkan peserta ujian untuk berpindah ke soal berikutnya. Biasanya peserta diberi waktu untuk mengerjakan satu soal ‘prasmanan’ selama 40-60 detik. Itu pun sudah termasuk waktu berpindah dari satu soal ke soal lainnya. Di UAP kali kebetulan yang membuat soal adalah aslab (gue dan kak Hanny) karena dosen pengampu praktikum sedang berhalangan membuat soal. Alhasil aslab sempet kebingungan ngebuat soal, meski banyak kekurangan tapi beliau menyetujui soal yang aslab buat.

Seteelah UAP selesai ternyata tugas seorag aslab belum selesai. Selain memeriksa jawaban UAP, kami juga harus memasukan nilai-nilai yang lain ke rekap nilai. Mungkin terlihat mudah, tapi hal ini juga dapat menyita waktu bila ada kesalah dalam inputnya. Selain perjuangan menginput nilai, aslab juga harus merelakan waktunya buat mengoreksi laporan. Untuk praktikum biologi umum seenggaknya ada 10 praktikum dengan masing-masing praktikum punya bobot sendiri (jadi ada 10 nilai praktikum) yang nantinya bakal dirata-ratain. Karena waktu itu gue pertama kali ngaslab, kerasa betul rasanya ngoreksi 20 buku laporan setiap selesai sebuah praktikum. Bahkan gak jarang malah gue rapel jadi beberapa praktikum (hal ini lebih kerasa ketika menjadi aslab di smester selanjutnya).

Di saat pertama kali menjadi aslab mungkin gue belum begitu peka mengenai nilai-nilai yang gue dapatin. Sejauh itu gue hanya berpikir mengenai pengalaman. Di tahun semester selanjutnya ternyata Tuhan menuntun gue untuk membuka mata, ternyata menjadi aslab bukanlah sebatas mencari pengalaman dan membagi ilmu. Tetapi ada yang hal lain yang harus diperhatikan.

to be continue . . .

 

 

intermezo : identitas diri (2 tahun status mahasiswa)

Posted: 29 Agustus 2014 in Tak Berkategori

Akhirnya penulis malas ini kembali berceloteh di liburan semester yang panjang (2 BULAN BROOOH). Ngomong2 soal liburan, sekarang gue masuk tahun ke-3 (smt 5) di perkuliahan. Masuk tahun ke-3 berarti udah mau punya dua angkatan adek tingkat. Angka 2 tahun bukan waktu yang lama buat hidup manusia pada umumnya. Bagi gue banyak hal baru yang gue pelajari, khususnya dalam proses pencarian jati diri (ini beneran).  

Gue sendiri belum sepenuhnya menemukan ‘diri’ gue yang sebenarnya. 2 tahun jadi mahasiswa gue menyadari akan pentingnya ‘identitas diri’, paling tidak bagaimana orang menilai kita. Gue teringat pernyataan dan pertanyaan yang pernah diajuin salah satu dosen di tengah perkuliahan.

Sebentar lagi saudara akan punya adik tingkat. Lalu apa yang saudara sudah miliki? Apa yang bisa saudara berikan kepada adik tingkat nanti? Sudah cukupkah?

Mungkin beberapa pembaca akan bertanya apa hubungannya dengan mencari ‘identitas diri’. Namun menurut gue akhir dari pertanyaan ini adalah seperti apa diri ini akan dikenal orang lain (merujuk pada identitas). Bukan menjadi orang lain, tapi menjadi diri sendiri

Berhubung gue mahasiswa biologi, gue sendiri udah punya beberapa peminatan. Meskipun belum bisa dibilang fokus. Misalnya gue lebih cenderung memilih bidang biologi yang lebih banyak ada di lapangan (misalnya ekologi dan konservasi). Sedangkan untuk peminatan gue cenderung milih primata nokturnal, serangga, dan sedikit mengenai botani. Dengan sedikit fokus ini (masih ga bisa dibilang fokus juga sih), beberapa orang mengenal gue dengan fokus yang udah gue jalanin. Mudahnya orang lain juga bisa mengenal orang lain dari sifat dan keahliannya. Nah sifat dan keahlian ini yang harus dicari dan diasah. Gue sendiri memilih fokus itu bukan sepenuhnya karena orang lain butuh, tapi memang karena gue suka. Jadi gak ada keterpaksaan untuk belajar.

Mungkin gue juga terlalu idealis dalam menentukan pilihan. Meskipun nantinya dalam dunia kerja misalnya, kita belum tentu sejalan dengan bidang kita. Misalnya lulusan biologi, tapi kerja di bank, akuntan, dll. Menurut gue itu gak masalah, meskipun tentunya kita bakal mikir sayang banget udah kuliah minimal empat tahun tapi kerja gak sesuai bidangnya. Ya itu bagi gue pilihan masing2. Menurut gue itu lebih baik dari pada empat tahun kuliah tapi terpaksa, yang ada itu buang2 kesempatan hidup. 

Dalam dunia perkuliahan kita juga harus ngembangin soft skill (manajemen, organisasi, dll). Pasalanya ini juga menurut gue basic dari kehidupan nanti, selain ada hard skill dan ditunjang spiritual. Gue gak terlalu bahas hard skill dan spiritualnya, soalnya bakalan panjang banget haha. Mungkin teman-teman bisa searching di mesin pencari, karena materi-materi ini biasanya udah banyak dishare. 

Kembali ke pencarian ‘identitas diri’. Semuanya gak semudah dalam ucapan. Tapi menurut gue, memang itu hukum yang berlaku bagi mereka yang ‘hidup’.  

Life and road in many ways
interacting with others
laughing, fighting, and crying
we crossover

– Crossover by Fear and Loathing in Las Vegas –

nb : buat yang gak suka lagu yang ada scream-nya lebih baik lihat liriknya aja😛

 

well, baru ini yang bisa gue tulis. Sedikit berceloteh tanpa arah. 

Semesta Tanpa Arah

Posted: 31 Mei 2014 in Tak Berkategori

Semesta Tanpa Arah

 

Aku kecil di bawah bayangan langit.
Menunduk, berdoa pada Tuhan.
Melepas nafsu duniawi, mengalir dalam aliran nafas.
Berhembus kian tipis, hingga ku temukan kekosongan.
Candra ku pergi, menembus ruang dan waktu tanpa ku mengerti.
“Tuhan di mana keberadaan ku?”

Kosong dan hampa, diantara sepinya semesta luas tanpa arah.
Melayang diantara energi hitam.
Dingin menyeruak dalam degup jantung, membekukan nalar ini.
Mengeras dan mengeras


Kian terang setitik cahaya dibalik mata yang tertutup,
“bukankah aku sudah ‘buta’ Tuhan dari nafsu ku? Bukan kah aku sudah merasakan desah nafas semesta luas-Mu?”.
Gejolak dalam hati menyeruak merobek bohong ku bersama terang cahaya itu.
Kian bergemuruh dari telinga tuli ku mendengar simfoni semesta yang tak mungkin ku dengar.
Kian jauh aku dari raga yang fana. 

Berat melepas emosi ku Tuhan. Tinggi nirwana yang Kau tawarkan.
Tak hayal aku tertarik. Tertarik oleh massa raga ku yang fana. “Aku jatuh Tuhan!”.
Kaleidoskop berlalu seperti kilat, menarik masa lalu.
Turun ke dasar ingatan ku, ke dasar nalar dan emosi ku.

Ku buka mata ini, aku sendiri. Sendiri diantara mereka yang juga sendiri.
Sendiri bersama mereka di semesta tanpa arah.

 

3 Januari 2014

refleksi lagu ‘Pulsating Star‘ oleh Flukeminimix.

Kenalan dengan Wildlife Photography

Posted: 18 Juli 2013 in Tak Berkategori

Whoaaa dah lama gak nulis blog lagi. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi entah kenapa malas ngetiknya -.-” Maaf sekali lagi maaf.

Gambar

Post terakhir gue tanggal 7 April 2012!!!!!

 

Bicara dah lama gak ngeblog sekarang gue lagi menekuni dunia fotografi, khususnya Wildlife Photograph yang berfokus dengan flora, fauna, dan alam (tapi gue lebih kearah flora dan fauna). Tadinya gue suka dengan landscape, tapi semenjak kenal dengan salah satu Indonesian wildlife photographer yakni Aa Raja gue mulai minat dengan wildlife photography. 

Waktu itu gue ketemu dengan beliau di TIM, kebetulan ternyata dia teman dari Ka Nurdin (LIPI). Dari awalnya cuma ngobrol-ngobrol biasa, sampailah saat dia ngebahas-bahas fotografi.

R : “kamu suka fotografi juga mi?
G : “haha iya a, tapi cuma pake camera pocket aja”
R : “oya? suka foto apa?”
G : “hemm suka landscape sih saat ini”
R : “wah kalo landscape, kurang puas kalo pake pocket doang hehe”
G : “haha iya sh a emang kurang puas”

Sehabis obrolan seperti itu, beliau bangun dan ngambil kamera prosumer miliknya dan keliling-kelilling di sekitar tempat ngobrol. Sempet ngelihat-liat beliau moto-moto ke tempat-tempat agak tertutup (waktu itu gue meyakini dia lg foto laba-laba). Gak lama dia balik duduk dan gue ngeliat foto laba-laba yang beliau ambi, dan meskipun itu cuma laba-laba biasa yang hidup di tempat kotor, tapi hasilnya keren. Terlebih setelah gue liat foto-foto di album beliau (di FB maksudnya). Dalam hati gue cuma bisa ngomong “gile keren nih, kapan-kapan gue jajal bisa kayaknya nih pake poket”. Kalo dipikir-pikir gue sekarang kuliah di jurusan Biologi, kenapa gak coba gue tekunin dan share sama temen-temen di kampus hehe.

 

Januari lalu gue ikut pelantikkan Kelompok Studi Primata Macaca UNJ (KSP Macaca UNJ) di Bodogol, Sukabumi. Sekedar informasi saja di jurusan Biologi UNJ ada 3 kelompok studi yang bergerak di bidang konservasi, yakni Kelompok Pengamat Burung Nycticorax (KPB Nycticorax), KSP Macaca, dan Community of Marine Conservation Acropora (CMC Acropora). Setiap kelompok studi punya karakteristiknya tersendiri😀

Selama gue tracking di beberapa jalur di Bodogol, gue menyempatkan diri untuk ngambil beberapa objek foto sembari mencari primata (dalam pelantikan ini calon anggota tracking sambil belajar ngambil data dari aktifitas primata yang ada di Bodogol). Di saat tracking gue juga sempet ngobrol-ngobrol soal fotografi dengan kakak-kakanya. Kebetulan ternyata beberapa dari mereka seperti ka Tika, ka Dany, dan ka Maida juga suka fotografi (kebetulan waktu itu ngobrolnya sama mereka). Sepeti menemukan teman bermain baru, gue senang tentunya punya senior yang juga punya hobi yang sama hehe.

Sepulang dari kegiatan pelantikan gue langsung coba upload beberapa foto di FB, dan ternyata mendapat tanggapan positif. Semenjak itu gue coba menekuni wildlife photography terutama di foto-foto macro. Oya selama gue mengambil foto, gue make camera pocket Sony Cyber-shot DSC-W610 dan hasil fotonya gue edit sedikit brightness dan contrasnya make aplikasi Photo Scape (kenapa gak photoshop? karena gue gak begitu ahli make photoshop dan emang gue gak suka merubah image asli dari objek yang gue foto alias lebih suka natural hehe). Sekarang pun gue juga gabung dengan group FB “Indonesian Wildlife Photographer” meskipun agak minder juga ngelihat foto-foto mereka dengan kamera berspesifikasi tinggi, tp gue coba pede aja dengan anti-mainstream :p

So ini beberapa foto yang gue ambil  baik itu di kebun kampus maupun di lapangan :

GambarGambarGambar 

upload foto-foto lainnya bisa dilihat di akun FB gue dan Flickr. 

So kiranya sampai sampai sini dulu dan thanks buat kakak-kakak yang motivasi khususnya di dunia wildlife photography😀  

Lyric :

I can feel the way, every time I want to call you…I fall deep down inside

I can feel the way, how much pain my love does to my hearth

I can feel the way, when I feeling weird…I can’t help just to see your face…everyday

There’s no one the way, that’s my love…for you

 

I won’t give up, I know I love you, but too bad you don’t

I want to meet you, want to hug you and thats not enough…just in my imagination

If I could…I’ll be with you, and kiss you and give shelter in the storm

I’ll take your side, even if you are the one who’s wrong

Just to prove our love is strong…

 

Video  —  Posted: 7 April 2012 in Tak Berkategori

KIR? Apaan tuh?

Posted: 4 April 2012 in Tak Berkategori

Suatu ketika, ada dua orang siswa yang berbincang mengenai ekskul.

A : “Eh lo ikut ekskul apa?”
B : “Gue ikut ekskul KIR”
A : “KIR? apaan tuh?”
B : “Apa ya? pokoknya ekskul ilmiah gitu”
A : “Oh ilmiah…”

Gak mau kan lo pada ikut ekskul KIR, tapi pas ditanya gak tau KIR itu apa atau gak kegiatanya apa aja. Nah untuk postingan kali ini gue bakal ngebahas KIR secara garis besarnya. Karena postingan ini lebih ditunjukin buat generasi muda yang belajar, jadi gue make bahasa yang (mudahan-mudahan) lebih bisa dimengerti. Pasalnya kalo gue full make kata-kata yang baku, takutnya kurang nyambung.
Di sini gue menghadirkan dua orang, yang satu orang yang masih awam dengan KIR dan orang yang udah mengenal KIR. Enjoy it!

Apaan tuh KIR? kok baru denger?
Mungkin kata ‘KIR’ masih terdengar sedikit asing bagi orang awam.Padahal nama KIR sendiri udah ada sejak TAHUN 1970. Kepanjangan dari kata KIR sendiri adalah “Kelompok Ilmiah Remaja”. Intinya KIR itu organisasi ekskul yang bergerak di bidang Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dimana hasil dari Penelitiannya diharapkan ngehasilin karya ilmiah. Jadi kalo gak ngehasilin karya ilmiah bukan KIR namanya.
Ilmiah ya? berarti ekskulnya anak IPA dong sama yang pinter-pinter dong?
Eits salah tuh. Emang banyak yang blang kayak gitu, tapi KIR bukan ekskul anak IPA doang sama anak-anak pinter. Buktinya banyak kok anak-anak yang ikut KIR itu anak IPS bahkan anak Bahasa loh. Jadi di KIR tuh gak penting ngambil program pendidikan apa, selama ia berminat sama kegiatan-kegiatan ilmiah dia bisa gabung.
Terus juga yang orang bilang anak KIR pasti pinter, kutu buku, culun, rambut belah tengah, maen rumus doang, autis, dan gak gaul. Itu semua SALAH, sekali lagi SALAH BESAR. Kenyataanya anak-anak KIR sendiri banyak yang merupakan anak gaul, atau dalam kata lain sama aja kalo kita liat kayak anak-anak pada umumnya. Bahkan hampir gak kelihatan kalo mereka adalah anak-anak KIR.

Wah keren juga ya. Oya tadi Katanya KIR udah ada dari tahun 1970an, gmana ceritanya sampe ada KIR?
Jadi pertama kali adanya KIR tuh hasil dari Konfrensi Anak-anak Dunia (Childern of World Confrence) yang diselenggarain UNESCO di Generobe Perancis tahun 1963. Nah salah satu hasilnya adalah “Diperlukanya pendidikan IPTEK di luar sekolah”. Gara-gara nih hasil banyak negara-negara yang mengediriin KIR, terasuk di Indonesia. Maka muncul istilah “Youth Science Club” atau di Indonesia lebih dikenal “Kelompok Ilmiah Remaja”.
Tapi di Indonesia adanya KIR tuh telat, soalnya KIR baru dikenalin di dunia pendidikan Indonesia sekitar tahun 1969 oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Maklum aja LIPI sendiri baru ada tahun 1967. Jadi gak heran kalo emang KIR mulai berkembang di tahun 1970an.

GambarGambar

Alamak tua banget dong, udah 40 tahunan. Banyak dong KIR yang udah pada tua tapi masih eksis?
Haha emang udah tua banget, udah punya anak lagi kali haha. Tapi sayangnya gak semua KIR yang udah tua tetep berdiri sampe hari ini.

Lah? Emang Kenapa?
Jadi gini, emang banyak KIR yang udah berdiri dari tahun 70an, tapi banyak juga yang pada akhirnya vakum. Ada beberapa pendapat dari orang-orang yang udah berkecimpung di dunia KIR. Jadi setelah mereka (sekolah-sekolah) diriin KIR, kebanyakan kegiatan-kegiatan KIR ngebosenin dan kaku, atau gak mereka gak tau KIR ‘mau dibawa kemana?’. Gara-gara ini, peminat KIR jadi makin sedikit, dan  pada akhirnya vakum.
Tapi ada juga yang masih bertahan sampe sekarang, bahkan ada yang sampe angkatan 15, 27, ataupun 30an. Meskipun cuma dikit KIR yang kayak gitu.

Ironis ya udah cape-cape didiriin tapi harus vakum. Oya tadi katanya kegiatanya ngebosenin, sekarang masih kayak gitu?
Kalo buat sekarang udah mulai gak ngebosenin, soalnya lebih banyak variasinya.Misalnya kunjugan ilmiah, lomba-lomba, pameran, games, jalan-jalan, bahkan diskusi. Tapi tetep gak ninggalin sifat ilmiah dari KIR itu sendiri. Bahkan kalo enjoy di KIR gak bakal ngerasa kalo kita sebenernya ikut ekskul ilmiah.

Kalo kegiatan rutin KIR biasanya kapan?
Pada umunya kegiatan rutin KIR ada 3 menurut waktunya, yakni:
-Mingguan:
Percobaan/praktikum per-divisi, materi sains, rapat mingguan (pengurus) dll.
-Bulanan:
Pertemuan dengan alumni, silaturahmi dengan KIR sekolah lain, kunjungan ilmiah, pelatihan dasar ilmiah.
-Tahunan:
Penyeleksian, pengenalan KIR, Ultah KIR, rapat pleno KIR, Refreshing keluar kota, Latihan dasar kepemimpinan KIR, Regenerasi KIR.

Aish, banyak juga kegiatanya. Itu ada jalan-jalanya juga?
Tentu, soalnya kalo kita kegiatan di lab terus, atau di kelas kan pasti bosen, makanya ada beberapa KIR yang bkin kegiatan di luar sekolah. Ada yang kunjungan ke objek-objek ilmiah kayak Obervatorium Bosscha, LAPAN di Sumedang, Pabrik Pocari Sweat, BATAN Bandung, dan masih banyak yang lainya. Intinya kita gak bakal jenuh ikut KIR, soalnya kita bsa ngunjungin tempat-tempat yang gak semua orang bisa datengin.

Asik juga ya, terus di KIR juga ada organisasinya gak?
Oh itu mah udah pasti, sama aja kayak ekskul-ekskul lain juga ada organisasinya. Ada pengurusnya, pembina, anggota, sama ada juga alumni-alumninya.

Kalo mau masuk KIR ada tesnya gak?
Ada beberapa KIR yang nerima anggota baru make seleksi, ada juga yang engga. Jadi tergantung kebijakan di KIR itu sendiri.

Kalo dites kira-kira tesnya kayak apa?
Nah ini juga setiap KIR beda, ada yang di wawancara, make tes tertulis, ada juga yang dikasih penugasan. Tergantung dari kebijakan KIR itu sendiri.

Terus kalo kita ikut tesnya, kita bisa langsung jadi anggota?
Oh belum tentu, kalo ada tes, pasti ada yang tesisih dong. Jadi gak semua orang bisa jadi anggota. Tapi bagusnya, anak-anak yang masuk seleksi anggota bisa lebih ngerasa milikin KIR ketimbang yang engga. Soalnya kalo gak ada seleksi, anggota itu merasa punya hak buat masuk KIR terus berhak juga keluar KIR sesuka hatinya.

Hmm yaya ngerti-ngerti. Terus kalo jadi pengurus itu gimana?
Nah kalo pengurus itu anak-anak yang ngurusin sega aktivitas KIR. Baik acara mingguan, bulanan maupun tahunan. Untuk jadi pengurus KIR, seorang anggota harus ngejalanin pelatihan lagi, bahkan terkadang harus diseleksi lagi baru bisa dilantik jadi pengurus. Karena untuk jadi pengurus dibutuhin komitmen lebih ketimbang jadi anggota.

Oya tadi di awal katanya harus ngehasilin karya ilmiah ya? terus karya ilmiahnya buat apa?
Yup betul, sayang kan kalo udah cape-cape ikut KIR tapi gak ngehasilin apa-apan. Lagi pula kalo gak ngehasilin karya ilmiah bukan kelompok ilmiah namanya. Nah karya ilmiahnya bisa buat diikutin di lomba-lomba penelitian. Baik tingkat sekolah, regional, provinsi, nasional, atau bahkan internasional. Banyak keuntungan kalo kita bisa ikut lomba-lomba penelitian, selain kita jadi terbiasa buat neliti, hasil penelitian kita juga bisa ngehasilin uang dari ikut lomba-lomba itu, bahkan sertfikat dari lomba-lomba itu bisa jadi nilai plus untuk masuk ke perguruan tinggi.

***

Gimana kawan-kawan? apa cukup menjawab garis besar KIR ? Kalo emang ada yang masih kurang bisa komen postingan ini, atau gak bisa kontak gue di @mynameishelmi atau gak langsung dengan KIR FOSCA (forum KIR regional Jabodetabek) untuk berdiskusi. Maklumlah, semua pun masih sama-sama belajar di dunia KIR🙂