PIRN X Part 1

Posted: 6 Agustus 2011 in KIR, petualangan (ngebolang), Sehari-hari

Malam itu sekita pukul 22.30 gue sempet bangun. Tengok kanan-kiri, yang lain belom pada tidur. Pas gue lihat ke jendela, telihat cahaya lampu yang tesusun rapih. Berderet-deret kayak orang baris, tapi jaraknya berjauhan. Menurut gue pemandangan itu cukup indah mengingat lampu-lampu itu menghiasi gelapnya malam. Setelah daerah itu terlewati, jendela kembali gelap. Hingga tak ada yang dapat dilihat. Saat itu gue kembali tidur.

Sekitar pukul  02.30 gue bangun lagi. Kali ini gue bangun gara-gara kedinginan. Meski pake selimut, tetep aja kerasa dingin. Gue lihat ke kiri, si Icha lagi tidur dengan pulas. Begitu juga pas gue nengok ke kanan, di seberang pak Wawan dan Kevin juga tidur. Gue tengok ke depan sama belakang Cuma 1-3 orang aja yang amsih bangun.

Karena ngerasa dinginnya ga wajar, gue sedikit ngelirik ke pengukur suhu ruangan di sebelah TV. Ternyata saudara-saudara suhunya 15.3 derajat Celsius. Kampret pantesan aja dinginnya kebangetan. Kalo diinget-inget jam 16.00 suhunya masih 30,1 derajat. Jam 19.00 suhunya 23 derajat. Jam 22.30 suhunya 19,5 derajat. Eh sekarang malah 15,3 derajat.

Selang beberapa menit gue masih ngamatin temperatur, si Kevin bangun. Alhasil gue punya temen ngobrol. Gak lama, kereta tiba-tiba berhenti, gue di ajak sama Kevin buat ngelihat pemandangan di luar. Karena ga ada kerjaan gue nurut aja. Setelah  keluar dari tempat penumpang, gue sama Kevin ngebuka pintu keluar, dan gue ngelihat pemandangan indah malam itu. Bintang-bintang bertaburan di langit, lebih banyak dari pada yang pernah gue lihat pas di pulau Pramuka. Sampe-sampe gue gak tahu yang lagi gue lihat itu rasi bintang apa. Kalo di Jakarta gue ngeluh gara-gara polusi cahaya besar, jadi cuma sedikit bintang yang kelihat. Kalo disini malah sebaliknya.

Belum puas ngelihat pemandangan itu, tiba-tiba kereta bergerak lagi. Mau gak mau pintu ditutup lagi, soalnya udara yang masuk serasa menusuk tulang. Gue sama Kevin balik ke tempat duduk masing-masing, dia duduk di samping pak Wawan, dan gue di samping Icha. Di situ gue kembali ke alam mimpi…

***

Pagi itu, kereta sampai di stasiun Jombang sekitar pukul 06.00. Udara pagi itu terasa hangat, dengan cahaya matahari kemerahan yang menerobos lebatnya kabut pagi itu. Nampak jelas sepinya stasiun pagi itu terpecahkan dengan datangnya kereta dan turunnya para penumpang. Seolah pagi adalah awal dari hidupnya stasiun di hari itu.

Baru beberapa langkah keluar dari gerbong, gue ngelihat tim penjemput peserta PIRN. Setelah sedikit berbincang, rombongan 31 berkumpul dengan rombongan yang lainya. Pas lagi ngumpul gue ketemu seorang peserta yang wajahnya ga asing bagi gue. Betul aja, dia penumpang di gerbong yang sama dengan gue. Selidik punya selidik, ternyata dia anak SMAN 8 Jakarta dan namanya Gemilang, dan sebelumnya gue dah pernah ketemu dia di acara World Science Day di SMA 28 Jakarta. Oh ya dia juga ikut PIRN berdua sama temennya, Dita.

Lagi asik-asiknya berbincang, tiba-tiba ada orang dateng nyamperin rombongan gue.

“Mas peserta PIRN ya?” tanya orang itu.
Kevin yang ditanya cukup kaget “I…iya, ada apa ya mas?”
“Oh kalo gitu ikut saya, jemputan sudah nunggu di depan stasiun” sambil mau ngangkat  tas punya Kevin.
Sentak Kevin langsung ngambil tasnya “Ga usah mas, bias saya aja yang bawa”.
Terus orang dari tim penjemput nyamperin kita.
“Oh dah dateng toh jemputanya” sambil natap rombongan.
“Baiklah teman-teman peserta PIRN X bisa mengikuti mas yang itu ke mobil jemputan di luar” sambil nunjuk ke orang yang tadi.

Tanpa nunggu perintah lebih lanjut , rombongan peserta ngikutin tuh mas-mas. Dan sampai saat itu Kevin masih shock gara-gara tasnya dibawa.

Ngomong-ngomong soal jemputan, peserta dijemput mobil Isuzu Elf. Tadinya gue pikir bakal dijemput make bus gede, paling engga mini bus. Tapi ternyata make mobil Elf. Walau sempet empet-empetan sama peserta lain, tapi cukup nyaman lah.

Gak lama setelah rombongan naik,  mobil berangkat ke tempat transit di deket alun-alun kota. Jalan-jalan yang dilalui ramai akan aktivitas penduduk lokal di hari minggu pagi yang cerah. Cahaya matahari masih turun dengan lembut diantara embun-embun pagi yang kian pudar. Nampak deretan becak di pinggir jalan, sebuah  pemandangan yang sudah tidak ditemukan lagi di kota besar seperti Jakarta. Sungguh mengingatkan akan indahanya kampung halaman.

Selang perjalanan 5 menit dari stasiun, rombongan sampai di tempat transit sementara. Tempatnya berupa posko kemanusiaan. Berada di deretan bangunan-bangunan tua yang beralih fungsi. Gak hanya bangunannya yang tua, tapi tata letak kota, khususnya pinggir jalan di daerah itu ngingetin gue sama tata letak kota di daerah Menteng, di mana ada pohon-pohon besar dan tua di pinggir jalan, seolah-olah memayungi jalan. Gue bertiga sempet jalan-jalan di sekitar posko (yang bener nyari counter pulsa), di sana ada jalan cukup lebar kira-kira selebar badan mobil, di mana jalan itu ada di sebelah jalan utama, dan biasa dilalui becak, gerobak atau pun pejalan kaki. Sehingga kendaraan-kendaraan yang gak pake mesin atau pejalan kaki gak bakal merasa takut ketabrak sama kendaraan yang ngelaju cepat di jalan pada umumnya.

***

SMA Negeri 3 Jombang
Minggu, 3 Juli 2011

Pagi itu sekitar pukul 08.00 rombongan dari tempat transit di bawa ke tujuan akhir, yakni di SMAN 3 Jombang. Jaraknya gak jauh dari tempat transit, cuma sekitar 3 menit perjalanan. Dalam perjalanan ke tempat akhir, suasana jalan yang di tutupi pohon-pohon besar yang rapat, kini hanya beberapa pohon besar yang ada, seolah memberi kesan gersang di pagi itu.

Kesan pertama pas gue masuk ke lingkungan SMAN 3 Jombang adalah “GILA GEDE BANGET NI SEKOLAH!?”. Ucapan itu hal yang wajar bagi gue solanya luasnya kira-kira 3 kali luas tanah sekolah gue (dan gue dah nganggep sekolah gue cukup luas buat main petak umpet). Pertama kali masuk gerbang kita bakal nemuin percabangan dimana percabangan ini ngebuat lingkaran, dan di tengah-tengan lingkaran ini ada lapangan rumput yang cukup luas dengan bangunan utama 2 tingkat berwarna biru dan tiang bendera di sebelah utara lapangan. Bangunan-bangunan disini berupa komplek-komplek gedung, jadi gedung satu sama yang lain beda namanya, contohnya gedung J, K, L, dsbg. Uniknya lagi, bangunan-bangunan di SMAN 3 Jombang punya arsitektur lama, dan yang punya 2 tingkat cuma ruang guru aja, bangunan yang lain cuma 1 tingkat.

Habis mobil parkir di sisi barat lapangan, peserta di arahkan ke ruang aula, dimana peserta yang hadir diregistrasi ulang untuk pendataan. Bentuk aulanya juga bergaya lama, itu juga kelihatan dari model jendela yang memanjang ke atas dan melengkung di atasnya dengan tutupn dari kayu berventilasi. Luas dari aulanya nampung sekitar 100 orang dengan kursi, di sini habis registrasi ulang, peserta masih nunggu pembagian kamar. Waktu demi waktu berlalu, peserta yang datang makin banyak, bahkan temen-temen gue yang gue kenal juga baru pada dateng. Ada kali hampir 2 jam nunggu hasil pembagian kamar, akhirnya kamar putra selesai, dan yang putri masih nunggu kamarnya selesai di beresin.

Setelah gue ngelihat nama gue di salah satu daftar pembagian kamar, gue sama Kevin dianter ke kamar masing-masing. Selama perjalanan ke kamar, gue ngelewatin beberapa bangunan hingga sampai di sebuah koridor kelas. Di dekat jendela ada tumpukkan meja-meja yang udah disusun rapih hingga sedemikian rupa, dan di sebelah kirinya ada taman cukup luas sekitar 25×10 meter dengan kolam pancuran kecil di tengah-tengah taman. Taman yang rindang ini dikelilingi 4 bangunan kelas di setiap penjuru mata anginnya. Disamping itu, di depan beberapa kelas ada wastafel yang airnya mengalir jernih.

Gue masih jalan nyusurin koridor, hingga gue berhenti di kamar nomor 4 di mana gue bakal tinggal, dan kevin ada di kamar nomor 3 (sebelah). Pertama kali masuk kamar, gue disuguhkan pemandangan yang cukup bikin gue ketawa, pasalnya tempat tidurnya ngeleseh alias gak pake kasur, yang ada cuma hamparan tiker di kedua sisi panjang ruang dari ujung ke ujung.

Gue masuk ke dalem ruangan, dan ngambil posisi di sebrang pintu masuk. Pas selesai naro barang-barang, gue sempet kenalan dua peserta PIRN, yakni Adam dan Dika. Adam adalah seorang pelajar dari SMA Islam di Tasikmalaya (alamak kampung gue tuh haha)berperawakan tinggi, gak kurus-kurus amat, dan berkulit putih.Sedangkan Dika juga seorang pelajar dari SMA di daerah Rangkas Bitung dengan perawakan sedang, muka jerawatan dan berminyak, sama agak sipit. Kebetulan banget orang pertama yang gue kenal adalah orang sunda, jadi gue nyambung kalo ngobrol, haha.

***

Siang itu selepas sholah Dzuhur gue lagi tidur-tiduran sambil ngobrol sama temen-temen peserta yang lain. Lagi asik-asiknya tiduran, tiba-tiba ada yang manggil.

“Hey kamu yang lagi tiduran”suara itu dateng dari arah pintu.
“Eh?” tengok gue kebelakang “Saya bu?
“Iya kamu, ayo kesini sebentar”

Dengan tampang tak berdosa dan kebingungn gue nurutin apa yang diminta tu ibu-ibu.

“Nama kamu siapa?” sambil siap-siap nyatet nama gue.
“Helmi Romdhoni bu dari Jakarta”
“Ok Helmi mulai sekarang kamu jadi ketua kamar buat koordini konsumsi di kamar kamu” ceplos ibu yang tadi nyatet nama gue.
Gue shock “Hah? ketua kamar?”.
“Iya ketua kamar, kamu cuma koordinir temen-temen kamu 2 sampe 3 orang buat ngambil makanan setiap jam makan. Terus kamu harus ngedata jumlah peserta di kamar kamu” jawab ibu yang satu lagi.
Dengan mental yang masih shock gue cuma jawab “I…iya bu…”.
Resmilah gue jadi ketua kamar M4 di kegiatan PIRN X ini. Tau gitu mending gue gak usah tidurn deh, ckck.

Ngedapet amanah kayak gitu, gue mulai ngedata anak di kamar M4 . Mulai yang hadir sama gak hadir gue absen. Disini gue coba ngehafal nama mereka sembari ngabsen.

***

Selepas sholat magrib gue sama Adam dan Dika berniat ngambil makanan di ruang sekretariat panitia di deket gerbang masuk. Pas di tengah jalan ada salah satu anak kamar M4 yang bilang kalo makanan udah ada yang ngambil. Di situ gue sempet shock “loh kok udah ada yang ngambil?”. Yaudah gue sama yagn lain balik ke kamar.

Ternyata benar, makanan udah dibawa, bahkan beberapa peserta di kamar udah pada makan. Sampe di kamar gue langsung nanya siapa yang ngambil makanan, ternyata ada 2 orang yang ngambil makanan buat kamar M4. Di saat itulah gue kenalan sama Umam dari Madura, yang nanti bakal jadi peramai kamar M4 di hari-hari berikutnya.

Selesai makan dan sholat Isya, kegiatan dilanjutkan dengan Ice Breaking di lapangan utama. Semua peserta baik putra maupun putri di kumpulin di lapangan dan berbaris, yang putra di kanan, yang putri di kiri. Di sini peserta dituntut buat kenal sama peserta lain yang belum dikenal dengan beberapa games. Di salah satu acaranya ada dimana pembuatan yel-yel, di sini temen gue si Gemilang dari jakarta di suruh maju buat bikin yel-yel, dan sontak jadi terkenal malem itu haha. Tapi yel-yelPIRN X akhirnya dibawaoleh LO (relawan kegiatan PIRN). Bunyinya kayak gini ini :

“Prokprokprok HUU
Prokprokprok HAA
Prokprokprok HUHA
Prokprokprok HAAAA…”

Sampai tulisan ini di buat, yel-yel itu masih terekam dengan jelas. Setiap tepuk tangannya, dan setiap seruannya. Disaat seluruh generasi muda Indonesia menyuarakan sebuah yel-yel yang menandakan sebuak kebersamaan dan persamaan. Di malam yang indah . . .

to be Continue . . .

 

 

Komentar
  1. Sherly Kurnia D mengatakan:

    wkkk ga beda jauh ma PIRN III di Kutai. tahun itu tidurnya di atas meja yang digelarin kasur…..
    Oh iya kenalin naman sy Sherly Kurnia. Dulu sy ikut PIRNAS III di kutai tahun 2004. Sy memang lagi mencari berita ttg PIR karena berenca untuk mengajak murid sy ikut serta. Skrg pekerjaan sy adalah guru dan pembimbing KIR.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s