ASLAB (Asisten Laboratorium), Why not? (bagian 1)

Posted: 12 Januari 2015 in Tak Berkategori

Bagi beberapa orang istilah aslab mungkin agak sedikit asing. Pada umumnya istilah aslab dipakai buat kakak tingkat (dalam dunia kampus) yang bertugas buat ngebantu dosen pembimbing praktikum mata kuliah. Bisa dibilang juga aslab setara dengan asdos (asisten dosen), hanya aslab lebih familiar dengan mereka yang membantu praktikum dan asdos lebih mengenai teori. Setiap aslab punya kelebihan masing-masing di bidang mereka (dalam kasus ini mata kuliah yang di-aslabnya). Contohnya aslab matkul Biologi Dasar, Fisika Dasar, Kimia Dasar dsbg.

Nah, di kesempatan ini gue mau sharing sedikit mengenai suka dan dukanya jadi seorang aslab yang mungkin menurut beberapa orang, aslab itu pintar, kompten, keren dsbg. Kebetulan saat tulisan ini dibuat gue udah di akhir semester 5, dan kebetulan sudah berkesempatan 3 kali jadi aslab di matkul yang berbeda (1,5 tahun).

 

Awal jadi aslab?

Sebelum beranjak ke ‘awal jadi aslab’, gue mungkin mau bilang pertama kali ngelihat aslab itu keren (waktu masih jadi mahasiswa baru). Kenapa keren? Gimana engga sebagai maba (mahasiswa baru) ngelihat seniornya mimpin dan ngarahin kelas buat praktikum, diskusi sama maba, bisa jawab pertanyaan yang agak sulit di diskusi praktikum, ataupun sekedar ngebantuin kesulitan adik-adiknya. Disaat itu mungkin gue baru tersadar kalo mengajarkan sesuatu itu gak harus terikat oleh status (misalnya mahasiswa dengan dosennya), karenanya teman diskusi (khususnya kakak tingkat) sangat penting.

Balik ke ‘awal jadi aslab’, waktu gue mau masuk smt 3 sempet diajakin jadi aslab praktikum Biologi Umum (bioum) buat maba 2013 (kebetulan gue angkatan 2012). Sebelumnya gue ngerasa enggak enak, soalnya cuma gue yang ditawarin. Tapi atas dasar belajar dan mencoba untuk mengenal angkatan baru akhirnya mencoba untuk jadi aslab di tahun itu. Kebetulan waktu itu gue jadi partner kak Hanny sekaligus orang yang bertanggung jawab mengajak gue untuk jadi aslab haha.

Awalnya gue masih agak canggung untuk mulai ngaslab di depan maba, selain karena merasa hanya terpaut satu tahun, gue khawatir salah ngasih ilmu ataupun konsep selama praktikum. Tapi rasa itu mulai berkurang seiring gue mulai mengenal dan komunikasi dengan mereka, dengan cara diskusi gue menyiasati kekurangan setiap praktikum. Ketika ada pertanyaan maba yang gak bisa gue jawab, gue sering mengulangi kata-kata “coba cek lagi di litelaturnya”, “kata itu ada di bahasan apa ya?”, “kalo menurut kalian gimana?”. Mungkin apa yang gue lakuin terlihat bodoh atau engga ada yang berpikir kalo yang gue lakuin salah. Meskipun kadang engga semua pertanyaan akhirnya terjawab, paling tidak hal itu bisa memancing maba untuk berpikir dalam diskusi. Entah kenapa setiap kali coba diskusi gue juga ikut larut di diskusi, dan memang secara engga langsung  kita belajar untuk lebih dari mereka (maba).

 

1.5 tahun jadi aslab? gak bosen? itu ngapain aja?

Selama 1.5 tahun (3 semester) gue udah ngejalanin tiga matkul yang berbeda. Semester 1 di Biologi Umum, semester 2 di Botani 1 (Kriptogam), dan semester 3 di Botani 2 (Fenerogam). Beda praktikum matkul jelas beda suasana dan tantangannya. Dan untuk yang mau coba ngaslab mungkin gue saranin mulai dari bioum (kebetulan karena gue mahasiswa jurusan biologi). Pasalanya di sini bakal ditemuin kelakuan kelakuan sifat-sifat perantara antara siswa dan mahasiswa. Jadi masih agak mudah diatur dan masih agak segan dengan kakak tingkatnya. Langsung aja cerita di setiap matkul aja kali ya . . .

a. Biologi Umum

Sewaktu jadi aslab bioum gue lebih berperan di bagian penyiapan alat, teknis praktikum, dan pengawasan. Peran ini udah gue bagi dengan kak Hanny yang lebih berperan di pengadaan pre-test, penjelasan konsep dan pengawasan. Setiap kali awal praktikum biasanya ada pre-test untuk melihat apakah mahasiswa sudah memahami konsep sebelum praktikum dilakukan, dan hal ini juga bisa jadi salah satu evaluasi praktikum. Kebetulan nilai pre-test juga masuk ke dalam nilai praktikum dengan proporsi yang beda.

Setiap pre-test yang ka Hanny pimpin berlangsung, gue lebih ke arah ngecek ulang kesediaan alat dan bahan-bahan praktikum. Kalau pre-test sudah selesai, biasanya gue langsung ngambil alih buat ngejelasi tahap-tahap di praktikum dan pembagian lainnya. Di lain sisi, kak Hanny meriksa jawaban dari pre-test. Kak Hanny baru ikut bantu pada praktikum kalau jawaban pre-test udah diperiksa.

Setelah selesai kegiatan praktikum, biasanya diadain diskusi 20-30 menit. Di sini maba diminta untuk menyampaikan hasil pengamatan yang didapatkan, dan diadain tanya jawab setelahnya. Di diskusi ini biasanya muncul pertanyaan pertanyaan yang belum tentu bisa dijawab aslab. Tapi gue dan kak Hanny jawab dengan apa yang kita tahu, dan dikembalikan ke maba untuk didiskusikan kembali. Emang terlihat sepele, tapi memang pada dasarnya tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh aslab. Di sisi lain, maba juga terbiasa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang lebih karena rasa penasarannya (kepo).

Karena ini adalah matkul yang punya bobot SKS praktikum, di penghujung perkuliahan juga diadakan ujian akhir praktikum (UAP) selain UAS pada bagian teori. Seperti halnya di UAS, UAP juga jadi poin penilaian bagi mahasiswa. Yang nantinya akan digabung jadi nilai praktikum (beserta nilai pre-test/post-test, laporan). Saat UAP, aslab ngebagi kelas menjadi dua sesi (sesi 1 dan sesi 2) tujuannya agar ruang  ujian tidak begitu padat dan ada ruang untuk bergerak. Di sini, kami terbiasa untuk melakukan ujian ‘prasmanan’ di mana setiap soal ujian akan disertai dengan alat, bahan ataupun gambar mengenai praktikum yang sudah dilaksanakan. Di metode prasmanan ini juga disertai sistem ‘ketok’. Sistem ‘ketok’ mengisyaratkan peserta ujian untuk berpindah ke soal berikutnya. Biasanya peserta diberi waktu untuk mengerjakan satu soal ‘prasmanan’ selama 40-60 detik. Itu pun sudah termasuk waktu berpindah dari satu soal ke soal lainnya. Di UAP kali kebetulan yang membuat soal adalah aslab (gue dan kak Hanny) karena dosen pengampu praktikum sedang berhalangan membuat soal. Alhasil aslab sempet kebingungan ngebuat soal, meski banyak kekurangan tapi beliau menyetujui soal yang aslab buat.

Seteelah UAP selesai ternyata tugas seorag aslab belum selesai. Selain memeriksa jawaban UAP, kami juga harus memasukan nilai-nilai yang lain ke rekap nilai. Mungkin terlihat mudah, tapi hal ini juga dapat menyita waktu bila ada kesalah dalam inputnya. Selain perjuangan menginput nilai, aslab juga harus merelakan waktunya buat mengoreksi laporan. Untuk praktikum biologi umum seenggaknya ada 10 praktikum dengan masing-masing praktikum punya bobot sendiri (jadi ada 10 nilai praktikum) yang nantinya bakal dirata-ratain. Karena waktu itu gue pertama kali ngaslab, kerasa betul rasanya ngoreksi 20 buku laporan setiap selesai sebuah praktikum. Bahkan gak jarang malah gue rapel jadi beberapa praktikum (hal ini lebih kerasa ketika menjadi aslab di smester selanjutnya).

Di saat pertama kali menjadi aslab mungkin gue belum begitu peka mengenai nilai-nilai yang gue dapatin. Sejauh itu gue hanya berpikir mengenai pengalaman. Di tahun semester selanjutnya ternyata Tuhan menuntun gue untuk membuka mata, ternyata menjadi aslab bukanlah sebatas mencari pengalaman dan membagi ilmu. Tetapi ada yang hal lain yang harus diperhatikan.

to be continue . . .

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s