ASLAB (Asisten Laboratorium), Why not? (bagian 2-end)

Posted: 19 Februari 2015 in Tak Berkategori

lanjutan . . .

 

b. Botani 1 (kriptogam)

Di matkul ini terbatas membicarakan tumbuhan tingkat rendah kayak alga, jamur (masih dimasukin), liken, lumut, dan paku2an. Kalo diinget, gue daftar jadi aslab botani 1 karena iseng (ini seriusan). Di hari calon aslab diminta kumpul dengan dosen pengampu, gue ikut nimbrung, dan jadilah 8 aslab botani 1 (termasuk gue juga). Kebetulan saat itu gue ngaslab bareng Rurin (partner aslab) buat ngisi praktikum di kelas PBB (Pendidikan Biologi Bilingual) 2013, yang semester sebelumnya udah gue asalab-in praktikum Biologi Umum.

Sejujuranya diantara materi-materi yang ada, gue lebih paham untuk pengenalan morfologi. Pasalnya di botani 1 lebih nekanin ke arah klasifikasi, jadi dibutuhin kemampuan buat identifikasi, salah satunya dari karakter morfologi. Jadi di praktikum ini gue lebih berperan pengenalan morfologi khusus dan penyedian bahan praktikum, dan untuk materi klasifikasi dll di pegang Rurin. Urutan praktikum dimulai dari alga, jamur, liken, lumut, dan paku2an. Oya di praktikukm botani 1 ada yang namanya Field Trip atau bisa disebut kuliah lapangan. Jadi Praktikumnya gak cuma ngenal objek dari spesimen, tapi juga belajar langsung di alam.

Sekedar info aja, Biologi UNJ termasuk yang paling sering ngadain kuliah lapangan. Setidaknya mulai dari smester 2 hingga semester 6. Itu pun kadang ada smester yang engga ada kegiatan lapangan, tapi kadang mahasiswanya kelapangankarena memang ikut kelompok studi, juga ada yang jadi asisten (seperti yang gue lakukan), dan mata kuliah pilihan yang ngaadain kuliah lapangan.

Kembali ke FT, di kegiatan ini ada mentor2 yang bakalan nemenin kelopok2 kecil yang bakalan gambil data di lapangan. Termasuk aslab2 praktikum botani kriptogam jadi mentor, dibantu kakak2 dan teman2 yang lain yang sekiranya bisa jadi mentor.

DSC00260

Arahan dari bapak agung (dosen pengapu) pada mentor2 FT botani kriptogram.

Saat di lapangan, gue pun masih merasa bayak yang kurang dan harus dipelajari kembali. Pasalnya gue hanya bisa ngasih konsep2 dasar, kalaupun ditanya identifikasi gak banyak yang bisa dijawab. Tapi setidaknya kita gak berdiri sendiri, ada beberapa mentor yang juga menglami kesulitan, pada akhirnya beberapa kelompok bergabung agar penyapaian informasi2 sekitar objek pengamatan tersapaikan dengan lebih baik.

DSC00234

Belajar lumut bareng ka Indah dan kak Ayin (kalo gak salah)

Kalo dibilang mentor engga ada apa2nya yah itu yang gue rasain saat itu. Tapi sekali lagi gue merasa gak terlalu masalah, soalnya gue pun masih belajar, dan akhirnya kita jadi diskusi dan sama2 belajar. Bingung bareng, takjub bareng, tahu bareng, jadi gue pun merasa gak ada batasan yang berarti antara bocah2 (adik tingkat yang dibimbing ) dengan mentor. Cuma pengalaman, minat dan pengetahuan yang bikin beda, karena mentor2 lebih awal ngejalanin daripada bocah2nya.

DSC00367

Bocah2 (ayu, rh, aya, usman) yang gue bohongin selama FT :p

Balik dari FT pun masih ada special project (sp) dari dosen buat mahasiswa botani kriptogam, untuk memetakan tumbuhan paku se-jakarta. Selama sp gue lebih berasa sibuknya jadi aslab, selain koordinasi sama kelompok2 yang lagi ngambil data. Aslab juga standby buat ngebantu bocah2 ngurusin spesimen. Saat ngurus spesimen pun kita (aslab) masih kurang pengalaman. Contohnya pas ada kelompok yang bawa paku yang panjang frond-nya 1 meter lebih kita bingung itu paku mau di-oven gimana. Pada akhirnya kita pun berrtanya pada asalab yang lebih senior untuk minta saran.

Setelah kegiatan praktikum sudah mencapai bagian akhir, seperti biasa bocah2 bakal ngejalanin UAP. UAP kali ini ketiga kelas ngejalaninnya bersamaan di hari yang sama (hanya jamnya yang berbeda). Salah satu momen yang berat bagi aslab adalah saat memeriksa jawaban UAP bocah2. Karena nilai rata2 kelas mereka ada yang bagus dan ada yang kurang. Mungkin bocah2 bakal mikir kakak2 aslabnya ga begitu peduli dengan nilai2 mereka. Tapi bagi beberapa aslab itu jadi beban pikiran juga. Ketika nilai bocah jelek, bukan cuma bocahnya yang sedih, aslabnya juga. Aslab sedih bukan hanya masalah kuantitas dari nilai, tapi dari kualitasnya. Ketika nilai bocah2 kecil, kita selalu berpikir “apa gue nyampain materinya salah?”, “kok nilainya pada kecil?”, “gue bikin soal kesusahan ya?”, dsbg. Gak jarang juga kita merasa gagal dalam mengaslab, seolah yang selama 1 semester kita sampain masih banyak yang engga tersampaikan. Sederhananya, ketika bocah2nya berhasil kita senang, dan ketika bocah2 gagal kita juga merasa gagal.

 

c. Botani 2 (fenerogam)

Masuk ke semester selanjutnya gue kembali gabung ke tim aslab praktikum botani fenerogam (tumbuhan tingkat tinggi). Kalo dua semester sebelumnya gue ngaslab kelas pedidikan bilingual, sekarang gue di kelas pendidikan reguler. Awal pertama kali pindah pun gue merasa atmosfernya berbeda (karena gue udah hampir setahun bareng anak pendidikan bilingual). Untuk kali ini gue partner bareng Mei dan Yule dari kelas pendidikan.

Singkat cerita gak banyak yang berbeda sebenernya kayak botani 1, hanya aja objeknya sekarang tumbuhan tingkat tinggi. Lanjut ke FT. FT botani kriptogram diadain di pulau Untung Jawa dan pulau Rambut. Bagi beberapa orang pulau2 itu sebenarnya tidak begitu layak untuk tempat penelitian, karena masih sangat dekat dengan teluk Jakarta. Sehingga masih banyak sampah, dan warna air launya juga masih agak hijau gelap. Meskipun begitu, gak jadi masalah karena fokus FT kali ini memang tumbuhan di pulau Rambut dan pulau Untung Jawa.

Hari pertama pengamatan, bocah2 gue bawa ke dalem hutan (ke arah tengah pulau) buat ngambil data. Kebetulan gue dulunya sempet minat di ekosistem mangrove, jadi gue gak begitu kesulitan untuk ngejelasin jenis (paling engga genus) yang ditemuin di sekitar pulau. Karena memang kebetulan di pulau Rambut masih ada hutan mangrove. Waktu penelusuran, gue dan bocah2 sempet nyasar dan stuck di padang Fabaceae yang berduri dan akhirnya kita back track. Tapi yang perlu diingat disini, back track bisa sangat berbahaya karena bisa nyebabin disorientasi. Bahkan bisa berdampak nyasarnya lebih parah. Keutuhan dan kondisi anggota kelompok juga bagian dari tenggung jawab mentor (selain ngedampingin kelompoknya). Sehingga mau gak mau mentor pun juga harus ngambil keputusan di saat2 tertentu.

Hari kedua mungkin lebih berat tapi lebih singkat karena sudah banyak data yang diambil di pulau ini oleh kelompok2 di hari pertama. Jadi kita ngakalin untuk nyusurin pesisir timur laut ke arah barat daya.

Sepulang dari pengamatan gue diminta pak Agung untuk nyari Caulerpa (semacam alga hijau) di pantai timur pulau Untung Jawa. Kebetulan waktu itu gue nyari bareng Hery (aslab), meskipun awalnya nyasar ke rawa-rawa. Dengan bermodal karung dan ilmu yang minim kita coba nyari Caulerpa di pantai itu. Kebetulan memang di situ lagi banyak Caulerpa dan beberap aalga lainnya yang kebawa ombak. Sepulang dari pantai, ternyata kelompok yang di pulau Rambut juga diminta ngebawa Caulerpa dan lebih banyak jumlahnya. Alhasil di sore hari kita misah2 in dan ngebersihin Caulerpa.

ftbotan2DSC04559

Caulerpa hunter (Hery)

ftbotan2DSC04560

Hasil buruan

ftbotan2DSC04561

Caulerpa sp. yang dijadiin makanan penduduk sekitar

 

 

Sekedar  informasi, Salah satu menu makan malem ini pake Caulerpa (meski pun pada akhirnya cuma beberapa orang yang makan karena kesan awal dari Caulerpa berbau amis). Tadinya Caulerpa bakal direbus, tapi ada ide dari kak Lana buat digoreng. Dengan modal nekad jadilah bakwan Caulerpa dan hasilnya tidak buruk. Bahkan cenderung enak😀

ftbotan2DSC04573

Memasak bakwan Caulerpa bersama kak Lana

Bakwan Caulerpa

Bakwan Caulerpa

Selesai perkara FT kembali ke praktikum biasa. Kejadian2 seperti prkatiku2 sembelumnya pun masih terjadi kayak nilai2 yang kecil (kalo yang ini hanya beberapa orang tidak separah botani kriptogam), telat nilai laporan dsbg.

***

Dari beberapa cerita yang gue paparin mungkin ada beberapa hal lain yang gue pelajarin selama jadi aslab :

  1. Aslab bukan sekedar eksistensi. Hal ini mungkin perlu dicatat, termasuk buat gue juga. Karena setiap manusia ingin keberadaanya disadari oleh orang lain jadi menurut gue itu hal wajar. Tapi mungkin baiknya disertai dengan ilmu dan pengamalam juga. Seperti apa yang salah satu dosen gue bilang “sekarang anda akan memeiliki adik (adik tingkat maksudnya), apa yang akan anda berikan untuk adik2 anda? dan seperti apa anda dikenal mereka?”
  2. Lebih akrab dengan dosen, kakak tingkat dan adik2nya. Poin ini gue lebih banyak merefleksikan ke FT. Mungkin kita pernah ingat kata2 Rasulullah yang intinya adalah bila kita bermalam di suatu tempat dengan orang lain ataupun dengan kawan kita, kita akan mengetahui sifatnya yang sebenarnya.
  3. Kita belajar jadi ‘guru’. Gak menutup kemungkinan karena kita membagi ilmu yang kita miliki ke adik2 kita, tapi juga kita dituntut untuk belajar pula. Selain itu kita juga berbagi rasa dan perasaan dengan bocah2 dalam konteks pendampingan.
  4. Kami pun tidak sempurna. Selam ajadi aslab pun banyak konflik yang kadang harus dihadapi. Mulai dari rasa tidak suka bocah ke aslabnya, perbedaan pendapat dengan aslab, telat memeriksa laporan, dsb. Dan siapa pun dari kita harus siap dengan konsekuensi yang ada.
  5. Komunikasi. Bagi gue ini merupakan hal simpel dan klasik. Karena komunikasi bukan hanya bicara kita menyampaikan materi dan menjadi pusat perhatian kelas, tapi juga bagaimana kita mengenal setiap karakter bocah.
  6. Kepuasan batin. Banyak hal yang mungkin luput atau pun tidak tersampaikan selama jadi aslab. Entah itu kita sedih, marah, kecewa, dan bahagia ketika menjalankan tugas. Tapi di akhir beberapa dari kami akan menerima kepuasan batin yang berbeda, yang tidak dirasakan teman2 yang lain. Senyum dari bocah2 bisa saja kebahagiaan tersendiri bagi aslab.
  7. Yang terakhir (mungkin) memberi kesempatan yang lain. Segala yang dimulai pastinya akan ada akhir. Tapi konteks disini adalah kita memberi kesempatan bagi orang lain untuk berkembang. Karena memang disekitar kita pun banyak yang ingin jadi aslab, tapi mereka takut karena merasa ada yang lebih kompeten, tidak ada teman, dan alasan yang lainnya.

 

Kalau pembaca di sini ada yang masih galau untuk jadi aslab padahal paling tidak sudah punya dasar materinya. Mendaftarlah, buat apa anda diam? apakah anda belum mengenal diri anda sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s